Panduan Dzikrullah

Panduan Dzikrullah

Sabtu, 24 Oktober 2015

BAB_1_A_THAREQAT


THAREQAT


Telah berkata empunya thoreqat :
Thoreqatuna ‘alaa ‘adadi harfi naqthijamin, faman lam ya’tina fii zamanina labudda yandim , 


Artinya : thoreqat kami ini atas bilangan huruf ………………….
Maka barang siapa tidak mendatangi pada kami dan tiada pula mengambil pada sesama kami, tidak bisa tentu menyesal.



Bermula hikmah thoreqat naqthojami yaitu : ( Dawamul ‘ubudiyyati zhohiron wabathinan ma’a dawami hudhuril qolbi ma’allahi


Artinya : berkekalan senantiasa berkepanjangan tiada berkeputusan memperhambakan diri zhohir dan bathin beserta berkekalan tiada berkeputusan hudhur hati serta Allah.

Firman Allah ta’ala :
 Wadkurullaha dzikran kasiron la’allakum tuflihuun ( aljum’ah – 10 )



Artinya : dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kamu mendapat kemenangan / keberuntungan .
Dan didalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Asysyaikhonii dan atturmudi dari saidina abu hurairah r.a telah berfirman Allah ta’ala :

Anaa indadhonni ‘abdiibii wa anaa ma’ahu hiina yadzkurunii faindzakaronii fiina dzakartuhu fiinafsii waindzakaronii fiimalain dzakartuhu fii malain khoirin minhu wainiqtaroba ilayya syibron iqtarobtu ilaihi dziro’an wainiq taroba ilayya dziro’an iqtarobtu ilaihi ba’aan wainatanii yamtsi ataituhu harwalatan .



Artinya : aku sesuai dengan persangkaan hambaku dan aku bersama hambaku ketika dia Ingat kepadaku, jika ia mengingati akan daku didalam dirinya (Hatinya), akupun ingat pula kepadanya didalam diriku dan jika ia ingat kepadaku dalam lingkungan “ Kholiq  rame-rame niscaya akupun ingat kepadanya dalam Kholiq rame-rame yang lebih baik, jika ia mendekat kepadaku sejengkal akupun mendekat pula kepadanya sehasta , dan jika ia mendekat kepadaku sehasta niscaya ia mendekati kepadaku sedepa, dan jika ia datang kepadaku berjalan maka aku mendatanginya dengan berlari.

Maka ta’rif thoreqat “ Naqthojami “ yakni berkekalan memperhambakan diri zhohir dan bathin kepada Allah serta berkekalan hudhur Hati beserta Allah itu membuahkan hikmahtentram Hati – Bersih Hati – terbuka Hati untuk menerima limpah karunia Allah tiada terlepas dari petunjuk Allah maka mendapatkan “ Mukasyafah “ dalam arti yang luas dan barang siapa mendapatkannya “ Hikmah Thoreqat Naqthjami “ dia tentu mendapat keberuntungan yang besar sekali, sebagaimana  firman Allah ta’ala :
 

Yu’til hikmata man yasyaau, waman yu’tal hikata faqod autiya khairon kasyiiron  ( albaqarah – 296 )

Artinya : allah memberikan hikmah (‘ilmu yang berguna) kepada siapa yang dikehendakinya,barang siapa mendapat hikmah itu maka sungguh orang itu telah mendapat kebajikan yang banyak.

Adapun ( Man yasyaau ) maksudnya : mereka yang dikehendaki Allah, itu jelas adalah mereka selalu mengingati Allah dan berhamfiri diri kepada Allah (Taqarrub) dengan berkekalan tiada berkeputusan hudhur hati serta Allah, sebagaimana dijelaskan antara lain didalam hadits qudsi tersebut diatas maka itu jelasnya yang dituju oleh (Fan ilmu thoreqat naqthojami) adalah meningkatkan maqom Iman dan Taqwa yang sempurna disisi Allah karena ditegaskan oleh Allah ta’ala didalam firmannya :



 Inna akromakum ‘indallahi atqokum innallaha ‘aliimun khobiir ( alhajarat – 13

Artinya : sesungguhnya yang paling mulia menurut pandangan Allah ialah orang yang lebih taqwa, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui dan Mha Mengerti.

Adapun taqwa kepada Allah berarti juga berakhlaq kemuliaan dan berakhlaq yang baik / kepunyaan itu berperangai Ihsan dan untuk itu berlakulah Thoreqat, maksud dan arti Thoreqat menurut ilmu tashauf ilah jalan atau petunjuk dalam menjalankan ( ‘Amal Ibadat ) sesuai dengan ajaran contoh yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, yang dituruti oleh para shahabat2 beliau lalu para tabi’in-tabi’ina secara turun-temurun sampaikepada guru-guru / ‘Ulama-‘ulama dari masa kemasa sambung menyambung hingga pada masa kita sekarang ini.
Perhatikanlah seperti dalam hal : wajib mendirikan shalat yang berwaktu dalam Qur’an di nyatakan perintah mendirikan shalat, tetapi tidak terdapat  ( Penjelasan ) umpamanya :
Zhuhur ………………. 4 ……raka’at
‘Ashar ………………………….4 …raka’at
Maghrib ……………………………………3 ………… raka’at
‘Isya …………………………………………………..4 ………..raka’at
Shubuh ……………………………………………2 ………..raka’at
Begitupun mengenai,…………………………………………………………………………………………………………..
Rukun shalat yang  13 (takbiratul ihram – fatihah – ruku’ – I’tidal – sujud -  duduk – dan seterusnya hingga salam) . hanya saja itu semua adalahpekerjaan yang terdiri dari apa-apa yang (Di Contohkan) / diajarkan oleh Nabi SAW, kepada para sahabat yang meneruskannya kepada para pengikutnya dan terus menerus sambung menyambung rantai berantai sampai kepada masa selanjutnya.

Bukannya sekali kali bahwa “ Qur’an “ itu tidak lengkap, akan tetapi justru karena sangat padatnya ilmu yang terkandung didalamnya, maka peraturan-peraturan Allah itu pelaksanaannya (Di Contohkan) dan “ Dijelaskan “ oleh Nabi Besar Muhammad SAW., agar tidak menuruti penangkapan otak orang yang hanya (Dari Membaca) sekilas saja lalu melakukannya sesuka hatinya.
Memang Qur’an itu menjadi sumber pokok, sedangkan sunah Rasul / Hadits merupakan penjelasannya yang “ Penting “ dan pelaksanannya berurat nadi “ Perbuatan “ ya’ni “ Thoreqat “ yaitu sebagaimana  dimaksud dalam sabda Nabi SAW :

Syare’at itu perkataanku (Peraturan)
Thoreqat itu (perbuatanku) cara pelaksanaannya
Haqeqat itu (Akhlaqku) kenyataannya

Dikatakan juga bahwa thoreqat itu adalah pelaksanaan ‘Ilmu Tashauf, bersumber dari pokok pangkal Thoreqat Nabi besar Muhammad SAW.  Ya’ni ‘amal ‘ibadat kita yang kita lalukan  (Thoreqat yang kita lakukan) adalah petunjuk yang kita terima dari guru kita, dan guru kita menerima dari ‘Ulama pendahulunya, dan ini dari para tabi’in – tabi’ina dan ini dari para tabi’ina dan beliau-beliau menerimanya dari Shahabat yang menerimanya dari Rasulullah SAW.

Dan junjunan kita itu menerimanya dari saidina “Jabrail ‘alihissalam“ dari Haqqullah subhanahu wata’ala, maka itu mempelajari pan ilmu thoreqat mestilah dengan adanya bingbingan guru yang jelas2 silsilah nisbanya dan tidak boleh hanya mengambil dari membaca buku / kitab2 karangan saja sebab telah bersabda Nabi SAW. 


Man lasyaikho lahu fasyaikhuhusy syaithonu,

Artinya : barang siapa yang tiada berguru baginya maka gurunya itulah Syethan.
Telah berkata pula syekh ‘abdul wahab asysya’roni r.a. ketahuilah oleh kamu wahai para murid ! sesungguhnya barang sipa yang tiada mengetahui akan turunan leluhurnya Thoreqat Dzikir itu tentu buta mata hatinya, terkadang nanti mengaku-ngaku keturunan dari lain leluhur yaitu margakan diri pada lain bangsa, maka tentu dila’nat. dimurkai oleh Allah ta’la, padahal leluhur2 thoreqat itu lebih luhur lebih bangsawan dan lebih mulia daripada leluhur “ shalib “ dari bapak dan ibu lebih tinggi daripada seratus tingkat kelebihan, maka barang siapa yang tidak mengetahui akan tingkat2 nya turun temurunnya thoreqat sejak dari Rasul SAW. Sampai kepada dirinya itu kosong lagi bingung dan dapat saja tersesat ditengah jalan.

Begitulah para shufiyah menjalankan thoreqat (sistim2) dan latihan-latuhan / riyadhoh membersihkan jiwa dari segala shifat yang tecela  “ Madzmumah “ dan menanamkan segala shifat terpuji, menggemarkan kegiyatan-kegiyatan ‘ibadah dan kebajikan – memperbanyak dzikirullah dengan tulus ikhlash semata-mata untuk memperoleh keadaan “ Tajalli “ yaitu = bertemu = dengan Allah ‘Aza wajala,

Justru itu para ahli tashauf / thoreqat lebih banyak berusaha sungguh-sungguh untuk membaikan “ Akhlaq nya “ terbanding membaca / mempelajari banyak buku2 yang dikarang orang karena memperhatikan hadits2 Nabi SAW. Seperti antara lain :

Akmalul mukminiina imaanan ahsanuhum khuluqon ( rowahu ahmad ‘an abi hurairah )







Artiinya : orang mukmin yang paling sempurna Imannya ialah orang yang paling baik Akhlqnya.

 Hubungan Iman dengan Akhlaq adalah laksana hubungan pohon dengan buahnya, pohon yang sempurna menghasilkan buah yang banyak manfaatnya bagi lingkungan sekelilingnya, begitulah orang yang sempurna Imannya, tentu membuahkan perangai terpuji yaitu “ Budhi pekerti “ yang luhur yang meni’matkan ‘alam sekitarnya, terutama lingkungan hidup manusia , sebaliknya orang yang buruk Akhlaqnya itu membuktikan bahwa Imannya masih tipis / kurang atau tiada sama sekali Iman tanpa Akhlaq kemuliaan adalah Lumpuh, sebaliknya Akhlaq tanpa Iman adalah Buta.

Dan lagi sabda Rasulullah SAW. : 



Afdholul iiman anta’lama annallaha ma’aka haitsu makunta ( rowahu thabroni )

Artinya : Iman yang paling utama ialah engkau mengetahui bahwa Allah senantiasa menyertai kamu dimana saja kamu berada.

Iman yang utama ialah percaya dan yaqiin kepada Allah dengan segala shifat kesempurnaannya, senantiasa ingat dan sadar bahwa allah Maha Mendengar dan Maha Melihat akan dia dimana dan dalam keadaan bagaimanapun sepenjang waktu / masa , orang yang selalu menyadari ini tentu selalu terhindar dari perbuatan yang buruk.

Allah AWT. Sumber dan pencipta segala kebaikan dan kesempurnaan yang telah mengutus Saidna Muhammad Rasulullah SAW. Sebagai orang yang paling baik.(Akhlaqnya) lantaran senantiasa dalam bingbingan Allah ta’ala, sebagaimana diakui oloeh Nabi SAW. Dalam sabdanya : 
 

 Addabanii – robbii faahsana takdiibii ( rowahul ma’ani ‘an abi sa’auri )

Artinya : dituntun Akhlaqku oleh tuhanku maka menjadi baguslah adabku.

Dlam hal berperilaku dan berbudi pekerti luhur dan terpuji, hendaknya kita bercermin kepada manusia agung ya’ni Saidina Muhammad SAW. Dan bukan kepada lain, dan itulah thoreqat yang benar.

Firman Allah ta’ala : waan lawistaqo muu’alaa thoreeqoti laasqoinahum maain ghodaqon ( al-jin – 16 ),


Artinya : dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (thoreqat) tentu kamu akan memberi kepada mereka minuman air yang segar  (rizqinya yang banyak).
Memperbaikan dan menyempurnakan Akhlaq adalah membersihkan dan meluruskan jiwa, barangsiapa yang baik jiwanya tentu baik pula perbuatan zhohirnya, maka itu ilmu thoreqat sebagai ilmu tashauf disebut pula sebagai ‘ilmu Keruhanian, adapun keruhanian adalah pusaka keagamaan islam yang dimulai Nabi SAW. Sampai kepada para sahabatnya terus kepada para tabi’ina lalu tabi’ittabi’ina dan seterusnya sampai kepada masa kita ini.

Kadang-kadang orang keliru menanggapi “‘Ilmu Thoreqat“ adalah ilmu kebathinan yang disejajarkan dengan aliran kepercayaan yang tidak bersumber pada kitab Allah, pendapat itu tidak betul, pan ilmu thoreqat bukan aliran kebatinan dan bukan aliran kepercayaan, yang benar adalah thoreqat adalah ilmu pelaksanaan ‘Ibadat kepada Allah yang bertitik tolak dari kesadaran keruhanian mengaku wujudullah Ahad sebagai dasar pokok kebenaran dan beragama, menepati ajaran dan contoh dari Rasulullah saw.

Sesungguhnya pengakuan dan kesadaran penyaksian Tuhan itu sudah sejak manusia berada di’alam Ruuh, oleh karena itu tiap manusia sebenarnya didalam batnn kesadarannya ada mendengar pertanyaan sebagaimana  firman Allah ta’ala :


Alastu birobbikum, qoluu balaa syahidna  ( al a’raf  - 172 )



Artnya : bukankah aku ini Tuhanmu ? mereka menjawab : bahkan , sebenarnyalah (Engkau tuhan kami) kami menyaksi.

  Artianpun menunjukkan, bahwa sebenarnya manusia itu mempunyai Naluri bertuhan, akan tetapi naluri bertuhan yang terdapat menurut kejadian dalam diri setiap orang beroleh jadi akan hilang lenyap apabila tidak dipupuk dan dipelihara selalu apalagi manakala sengaja dihilangkan atau dimatikan dengan jalan melepaskan diri dari pengaruh keruhanian dan rasa ketuhanan karena tetarik diri kepada pengaruh2 keduniaan / kebandaan sehingga menjadi sikap hidup menjauhi agama.
Apabila pengaruh / keduniaan / kebandaan sudah menguasai sikaf hidup manusia ruhani maupun jasmani, tentulah manusia itu secara siri sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dalam melaksanakan pemenuhan kebutuhan hidupnya tiada lagi memperdulikan “ Hala Haram “ karena dorongan hawanfsu belaka , asal tercapai maksidnya , lalu merajalelalah segala bentuk kema’shiatan – kejahatan – pencurian – perampokan – kecurangan – pelacuran – pembunuhan – dan segala rupa perbuatan-perbuatan keji lainnya membelunggu jiwa kemanusiaan serta m3njerumuskannya kedalam jurang kealfaan – Kegelapan – Kesusahan – Kekecewaan , yang mensuburkan kezholiman dan aniaya diberbagai bidang, sampaisampai sedemikian meratanya perbuatan-perbuatan kotor itu sehingga berangsur-sngsur tidak lagi dipandang sebagai perbuatan hina atau dosa : Rusaklah kehidupan manusia .

Oleh karena itu kalau suatu masyarakat hendak diperbaiki mestilah terlebih dahulu Ruhani manusialah yang terutama dibangun dan dibina, karena Ruhanilah yang menguasai jasmani dalam segala perbuatannya.

Untuk pilihan banding mari kita perhatikan :
1.                     Kebandaan membawa kepada lupa dan anti tuhan, sedangkan keruhanian membawa kepada Ingat dan cinta tuhan.
2.                     Kebandaan membawa pitnahan dan penghianatan, sedangkan Keruhanian membawa kepada keikhlasan dan kesyukuran.
3.                     Kebandaan membawa permusuhan dan kebencian, sedangkan Keruhanian membawa perdamaian dan kecintaan / kasih sayang.
4.                     Kebandaan membawa kezholiman dan kecurangan, sedangkan keruhanian membawa ke’adilan dan kejujuran.
5.                     Kebandaan bershifat merusak dan meruntuhkan, sedangkan keruhanian bershifat memperbaiki dan membangun.
6.                     Kebandaan membawa kepincangan hidup dan penderitaan, sedangkan keruhanian membawa kehidupan merata dan kesejahteraan.
Oleh karena itu tiliklah, bahwasanya Nabi besar Muhammad SAW. Dalam memulai pembangunan dan penyebaran Islam selalu bersandikan dengan hidup keruhanian,

Ilmu keruhanian itu adalah kunci untuk Ma’rifatullah (mengenal tuhan) sebagaimana berkata Imam Ghazali : bahwa ilmu keruhanian dengan shifat-shifatnya itulah merupakan kunci (Kaidah) mengenal tuhan.

Bahwasanya Nabi besar Muhammad SAW. Hidup sebagai seorang shufi dikala sebelum dan sesudah menjadi Rasul : beliau menyukai menyendiri tafakur dan berkholawat di (Ghuha hira).disitulah beliau melatih diri dan mengasih jiwa bermujahadah, memperhatikan keadaan alam dan susunannya dan memperhatikan segala-galanya dengan mata hatinya yang dengan demikian maka pandangan lahir dan bathin menjadi sangat bersih dan suci, sekalipun betul junjunan kita Muhammad SAW. Itu adalah juga manusia seperti kita juga, tetapi qolbu beliau sangat istimewa suci bersihnya sehingga dapat lekas menerima dan merasa apa-apa yang bershifat suci karena itu maka layaqlah beliau menerima (Wahyu) dari Allah yang Maha Suci.

Firman Allah ta’ala : 
 

Wakadzalika auhaina ruuhan min amrina makunta tadri malkitabu walal imanu walakin ja’alnahu nuuron nahdibihi mannastaau min ‘abadina, wainnaka latahdii ilaa sshiroyhim mustaqiim ( surat asyara – 53 )

Artinya : dan demikianlah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) wahyu (Ruuh) dengan perintah kami, sebelumnya kamu tiadalah mengetahui apakah alkitab / Qur’an dan tidak pula mengetahui apakah Iman itu, akan tetapi kami jadikan Al-Qur’an itu cahya yang kami beri petunjuk dengan dia siapa saja yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami, dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.


Bersambung ke_1_B
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar